Langsung ke konten utama

Di Antara Piring Makan dan Bangku Sekolah


Pendidikan kerap dibicarakan dengan bahasa yang tertib dan niat yang baik. Ia diletakkan sebagai jalan keluar, seolah cukup dengan datang ke sekolah, duduk rapi, lalu masa depan akan menyusul dengan sendirinya. Namun hidup jarang berjalan lurus. Anak-anak tidak datang ke kelas dari ruang kosong, melainkan dari rumah yang membawa cerita, kekurangan, dan kelelahan yang sering tak sempat mereka ceritakan.

Program Makan Bergizi Gratis hadir di tengah keyakinan itu. Anak diberi makan, lalu diharapkan belajar menjadi lebih mudah. Dalam batas tertentu, ini masuk akal. Perut yang kenyang memang membantu pikiran bekerja lebih jernih. Tetapi sekolah tidak hanya berurusan dengan lapar. Ia bersinggungan dengan hidup yang jauh lebih panjang dari jam pelajaran.

Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak kembali pada kenyataan yang sama. Ada rumah yang harus dijaga, adik yang perlu ditemani, dan orang tua yang menggantungkan harap pada sepasang tangan kecil. Di titik ini, sekolah sering kali harus bersaing dengan kebutuhan yang lebih mendesak. Makanan di sekolah dapat menunda kesulitan, tetapi tidak selalu mampu mengubah arah hidup.

Di sinilah kita kerap terlalu cepat merasa tenang. Program berjalan, makanan dibagikan, laporan disusun. Seolah persoalan pendidikan telah ditangani. Padahal yang disentuh baru bagian terluarnya. Biaya-biaya kecil yang tak pernah tercatat tetap ada. Ongkos perjalanan, perlengkapan belajar, rasa minder, dan tekanan ekonomi bekerja perlahan, sampai suatu hari anak tidak lagi datang tanpa gaduh, tanpa pamit.

Bukan berarti Makan Bergizi Gratis adalah kebijakan yang keliru. Program ini penting dan dalam banyak situasi sangat membantu. Namun menjadikannya sebagai jawaban utama berisiko menyederhanakan persoalan yang jauh lebih kompleks. Pendidikan tidak runtuh karena satu sebab, dan tentu tidak dapat diselamatkan oleh satu kebijakan saja.

Sekolah akan terus kehilangan murid selama kehidupan di luar pagar sekolah tidak ikut diperbaiki. Selama kemiskinan dibiarkan berjalan seperti takdir, dan pendidikan diminta menanggung beban yang seharusnya dipikul bersama.

Anak-anak tidak pergi karena mereka malas. Mereka pergi karena hidup terlalu berat untuk ditinggalkan demi bangku sekolah. Selama kenyataan itu belum sungguh-sungguh diakui, makan gratis hanya akan menjadi jeda singkat belum cukup menjadi jalan pulang.

Mungkin pendidikan memang tidak pernah bisa diselesaikan dengan tergesa-gesa. Ia menuntut kesabaran untuk mendengar, keberanian untuk melihat lebih dekat, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa satu kebaikan belum tentu cukup. Anak-anak tumbuh di antara banyak keadaan yang tak mereka pilih, dan sekolah hanyalah salah satu ruang kecil di dalam hidup mereka.

Jika kita ingin mereka tetap tinggal, barangkali yang perlu diperkuat bukan hanya bangku dan piring makan, tetapi juga kehidupan yang menyertai langkah mereka pulang. Sebab pendidikan yang benar-benar berpihak tidak berhenti di gerbang sekolah. Ia berjalan bersama anak-anak, menyusuri rumah, keluarga, dan harapan yang mereka bawa setiap har perlahan, konsisten, dan penuh empati.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upah Paruh Waktu dan Harga Diri yang Dicicil

  Polemik guru PPPK paruh waktu bukan sekadar soal angka di slip gaji. Ia adalah cermin retak yang memantulkan wajah kita sendiri: bangsa yang gemar memuliakan profesi guru dalam pidato, tetapi kikuk ketika harus memuliakannya dalam kebijakan. Kita diajari sejak kecil untuk menghormati guru. Kita mengutip Ki Hajar Dewantara dengan penuh khidmat. Kita hafal semboyannya. Kita pasang fotonya di dinding sekolah. Tetapi ketika guru yang sudah bersertifikat yang telah melewati proses panjang untuk diakui profesionalismenya—dibicarakan dalam forum anggaran, tiba-tiba istilahnya berubah. Bukan lagi “hak profesional”, melainkan “beban belanja pegawai”. Bukan lagi “pengakuan kompetensi”, melainkan “honor yang harus disesuaikan”. Di titik inilah logika menjadi lentur. Sertifikasi pada dasarnya adalah pengakuan bahwa seseorang telah memenuhi standar mutu profesi. Ia bukan sedekah negara. Ia bukan bonus musiman. Ia adalah legitimasi atas kerja yang terukur. Jika nilai yang lahir dari sertifikas...

Menjaga Proses, Menumbuhkan Rasa Aman

  Menjaga proses pembelajaran dan menciptakan lingkungan sekolah yang aman serta nyaman merupakan dua hal yang saling berkaitan dalam penyelenggaraan pendidikan. Pada tahun 2026, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia menetapkan dua peraturan penting sebagai rujukan satuan pendidikan , yaitu Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 1 Tahun 2026 tentang Standar Proses pada Pendidikan Anak Usia Dini , Jenjang Pendidikan Dasar , dan Jenjang Pendidikan Menengah , serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman . Permendikdasmen Nomor 1 Tahun 2026 mengatur standar proses pembelajaran sebagai acuan dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar. Standar proses ini bertujuan memastikan pembelajaran dilaksanakan secara terencana, sistematis, dan berkelanjutan. Proses pembelajaran meliputi perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian yang disusun berdasarkan capaian pembelajaran serta karakterist...