Pendidikan kerap dibicarakan dengan bahasa yang tertib dan niat yang baik. Ia diletakkan sebagai jalan keluar, seolah cukup dengan datang ke sekolah, duduk rapi, lalu masa depan akan menyusul dengan sendirinya. Namun hidup jarang berjalan lurus. Anak-anak tidak datang ke kelas dari ruang kosong, melainkan dari rumah yang membawa cerita, kekurangan, dan kelelahan yang sering tak sempat mereka ceritakan. Program Makan Bergizi Gratis hadir di tengah keyakinan itu. Anak diberi makan, lalu diharapkan belajar menjadi lebih mudah. Dalam batas tertentu, ini masuk akal. Perut yang kenyang memang membantu pikiran bekerja lebih jernih. Tetapi sekolah tidak hanya berurusan dengan lapar. Ia bersinggungan dengan hidup yang jauh lebih panjang dari jam pelajaran. Ketika bel pulang berbunyi, anak-anak kembali pada kenyataan yang sama. Ada rumah yang harus dijaga, adik yang perlu ditemani, dan orang tua yang menggantungkan harap pada sepasang tangan kecil. Di titik ini, sekolah sering kali h...